Sabtu, 06 Maret 2010

KARSTEN DAN PASAR CINDE PALEMBANG

Pasar 16 Ilir dan Pasar Cinde merupakan dua pasar yang menjadi trade mark kota Palembang. Geliat ekonomi rakyat nampak jelas di pasar-pasar ini yang senantiasa dikunjungi oleh berbagai lapisan masyarakat. 


Pasar Cinde dirancang oleh arsitek terkenal Hindia Belanda pada masanya yaitu Herman Thomas Karsten (1884–1945). Kersten adalah arsitek besar yang sangat berdedikasi pada masanya. Namanya dapat disejajarkan dengan Wolf Schoemaker, arsitek dan planolog Kota Bandung, Jawa Barat.

Karsten lahir tahun 1884 dan keluarga terdidik di Amsterdam. Ayahnya seorang profesor dalam ilmu filsafat dan pembantu rektor di Universitas Amsterdam. Pada tahun 1904 Kersten masuk jurusan Arsitek di Technische Hoogeschool di Delft. Semasa mahasiswa, Karsten aktif di perkumpulan Socialische Technische Vereeniging, perkumpulan mahasiswa teknik berhaluan sosialis-demokrat. 

Pada tahun 1908 Karsten menjadi anggota pengurus bagian perumahan dari organisasi yang memegang peranan penting dalam masalah perumahan dan perencanaan kota. Padahal pada masa itu, jurusan Arsitektur di Delft, tidak terlalu banyak memberikan perhatian pada masalah perumahan maupun perencanaan kota.

Karsten memulai karirnya di Hindia Belanda sebagai penasehat perencanaan di kota Semarang pada tahun 1914. Dari Semarang, kemudian ia beralih menjabat penasehat perencanaan kota-kota penting di Indonesia seperti Jakarta, Bandung, Magelang, Malang, Bogor, Madiun Cirebon, Jatinegara, Yogyakarta, Surakarta, Purwokerto, Palembang, Padang, Medan dan Banjarmasin.

Di kota Palembang, Karsten merancang Pasar Ilir (sekarang Pasar 16 Ilir) dan Pasar Sentral (sekarang Pasar Cinde). Pasar Cinde dirancang oleh Herman Thomas Kersten diperkirakan sekitar tahun 1936. Boleh dibilang Pasar Cinde merupakan kembaran dari Pasar Johar Semarang yang juga dirancang oleh Karsten. Mengapa disebut kembaran Pasar Johar Semarang? Bangunan Pasar Cinde di bangun dengan struktur utama memakai konstruksi cendawan (paddestoel). Dengan kata lain Pasar Djohar Semarang juga memakai konstruksi yang sama dengan Pasar Cinde.

Karsten melakukan studi mendalam tentang iklim maupun perilaku penghuninya. Gaya khas bangunan yang dirancang Karsten senantiasa memperhatikan aspek lingkungan hidup dan menghargai nilai-nilai kemanusiaan. Karsten tidak pernah melupakan kepentingan rakyat kecil. Amat jarang sikap tersebut dijumpai pada orang-orang Belanda di Hindia Belanda pada masa itu.

Di samping itu, dia juga menganggap penting bagi para ahli teknik untuk meningkatkan kemampuan dalam hal perencanaan kota. Hal itulah yang kemudian mendorongnya ambil bagian memberikan kuliah Technische Hoogeschool di Bandung (sekarang Institut Teknologi Bandung) dalam bidang tersebut. Usulan pengangkatan Karsten sebagai profesor di Technische Hoogeschool di Bandung ditolak. Karsten dianggap terlalu radikal dan terlalu kritis. Sebab Karsten menjadi salah satu bagian sekelompok kecil orang-orang Belanda yang menghendaki kemerdekaan Indonesia.

Meski banyak berjasa, kehidupan Karsten berakhir tragis. Setelah masuk dalam kamp internir Jepang di Cimahi pada 1942, dia meninggal tiga tahun kemudian. Di kamp Cimahi, ia menulis gagasan-gagasannya di buku harian. Catatan terakhir Karsten ditulis pada 21 April 1945, hanya sesaat sebelum ia meninggal. Karena sudah terlalu lemah dan tidak mampu menulis, ia meminta bantuan dokternya yang juga sesama tahanan untuk mencatat kata-kata terakhirnya: “Indonesia bermoelialah, Indonesia bersatoelah….” Karya Kersten tetap dikenang sepanjang masa, termasuk masyarakat Palembang.

Referensi
Peter J. Nas (Ed.), The Indonesian city: studies in urban development and planning, Foris Publication, 1986.
Yulianto Sumalyo, Arsitektur Kolonial Belanda di Indonesia, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1993.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar